aku ingin mencintaimu dalam doa
tidak lupa, tak pula tergesa.
aku ingin mencintaimu dalam secangkir teh senja.
gula secukupnya, karena pahit tak kan meniada sepenuhnya.
aku ingin mencintaimu dalam senyum,
dari hatiku
dari mataku.
aku ingin mencintaimu dalam doa
tidak lupa, tak pula tergesa.
aku ingin mencintaimu dalam secangkir teh senja.
gula secukupnya, karena pahit tak kan meniada sepenuhnya.
aku ingin mencintaimu dalam senyum,
dari hatiku
dari mataku.
bukan tiada,
mataku tak jeli menandai
lisanku terlambat menamai
senyum pun urung menghias pipi
satu dua, aku belajar mengeja
menghitung nikmat yang sesungguhnya tak hingga
pada senyum tulus pukul dua pagi, demi melihat kedatangan yang dinanti
pada kantuk yang ditahan pukul tiga, demi simpuh sujud dan pinta baginya
pada isak teredam tanpa suara, demi bisa kembali kuat dalam perjalanan yang disepakati
pada palung palung kecewa yang tertutupi rapal doa, demi sebuah janji pengguncang Arsy
kuadukan pada ombak
: ajal tak pernah tertebak
sekedip mata henti detak
raga pergi, kenangan terpaku mati
air mata surut, luka tak henti denyut
Ibu,
ternyata tanpamu
kian riuh monolog bisu
mencipta antara
memuaikan gelembung rasa
kali ini aku membutuhkan lebih banyak ruang
himpit sesak mendesak lapang
pulang
sebab aku tak ingin engkau sekadar merasa cukup,
aku ingin kelak engkau merasa besar hati.
dulu, yang kucari selalu tatapan lekatmu, padaku
yang kutunggu sanjungmu, tentangku
kini, aku mencukupkan diri
meski belum pernah berhasil memuji diriku sendiri,
aku berusaha berterima kasih pada kaki yang menopang dan bahu yang bertahan, meski tergelayuti beban
aku masih enggan memikirkan esok
separuh diri mengutuk hatiku saat ini
kadang, telingaku bisa memeluk suaramu
meredam hausmu
namun di beberapa kesempatan, hening memantulkan penggal kisah
hingga sesak dada, lelah jiwa
mengapa jarang sekali kamu bercerita pada Dia?
meski kamu tau tak sedikitpun akan kecewa ketika mendatangiNya
tanpa waktu tunggu, tanpa jeda keluh kesahmu beralih rupa
kini, terasa dahaga yang sulit dinamai
diantara celah hari, celotehmu terus mencari
berharap cerita sederhana menjelma perekat
berharap sepasang telinga sedia melekat
: hatimu yang merindu, kan memandu kemana seharusnya menuju
sekali waktu, aku ingin bercerita padamu
tentang sebuah lagu random yang kutemukan, lalu begitu saja kusukai
tapi entah mengapa, setelah lebih dari selusin kali aku memutar ulang lagunya,
tak terangkai jua kalimat untukku bercerita
beberapa kali aku menemukan hal yang kuharap bisa kubagi denganmu
sebuah buku yang menarik, sebuah cerita yang aku tak setuju namun tak kuasa jujur mengatakan,
sebuah percakapan teman yang bagiku mengandung pelajaran,
bahkan lelucon receh yang tanpa sengaja kutemukan
aku tak tau tepatnya sejak kapan
aku dan perasaanku menjadi prioritas terakhir yang akhirnya kerap kuabaikan
isi kepalaku serakah menguasai sisa sisa energi
diantara berjejal pekerjaan dan segala hal bertajuk tanggung jawab orang dewasa yang membelit benak
mungkin terlampau lama kubiarkan percik percik kecil bahagiaku meredup
perasaanku tak sempat mekar karena aku bersegera menyepelekannya
maka bagaimana aku bisa bercerita tentang hal hal kecil yang berarti bagiku
ketika aku sebenarnya telah gagal mengenali hal itu?
kusadari, aku tak memberi diriku waktu untuk menari, menikmati lagu dan puisi
dan hari ini,
aku ingin nyalaku kembali
Dini hari, membaca seseorang bercerita tentang kebiasaannya membuat jurnal pagi. Jurnal paginya selalu diawali dengan kalimat:
pagi ini, aku memaafkan diriku yang telah bla bla bla
pagi ini, aku mencintai diriku karena bla bla bla
Bagiku, kalimat pembukanya cukup menarik. Memulai hari dengan memaafkan kesalahan. Meletakkan beban. Menyembuhkan kekecewaan, karena terkadang tidak ada yang lebih kejam dari pengadilan diri sendiri. Mengakui kelemahan sebagai manusia yang mustahil tanpa kesalahan.
Memilih untuk pulih.
Mengakui bahwa kemarin telah usai. Masa lalu telah terlampau jauh. Yang telah berlalu, sepahit apapun pada akhirnya berlalu.
Terima kasih, Duhai Engkau Yang Maha Pengasih
Sungguh hanya karena kasih sayangMu, langkah pertama mengayun pada jalan pulang
Kerinduan diam diam yang selalu kalah oleh kebodohan, kembali bertunas harapan
hal besar yang kerap membebani hati dan pikiran, namun selalu tertahan di ujung lisan, Engkau mudahkan
engkau memberi kami kesempatan
Maka semoga Engkau berkenan menjaga kami di jalan ini
bukan pagi yang sempurna
bahkan awal hari dimulai dengan tunggakan yang belum terselesaikan, juga hasil pekerjaan yang dipertanyakan
tapi bukankah sebuah pagi itu sendiri bagaimanapun jalin cerita didalamnya, adalah satu nikmat yang tidak semua orang memiliki, dan karenanya amat sangat layak diayukuri?
Alhamdulillah untuk sekali lagi kesempatan
Hari ini terlalu indah untuk dikeluhkan
Aku tidak mengerti apa yang membuatku melipat muka tak suka
bukan, bukan tidak mengerti
Aku hanya enggan mengakui
sungguh aku merasa tersisih
namun yang masih tak jua kumengerti
kenapa aku harus peduli?
Kurasa gemintang tak pernah berebut penggemar
baik pijar maupun binar, bagaimanapun bersinar
Kurasa bukan sebuah dosa ketika bintang berkurang terang
Mungkin diantara sekumpulan cemerlang
kejora mata yang memancarkan cinta, menghapus gulita
panjangnya perjalanan pagi dan petang hari memberiku banyak ruang perenungan.
sosok-sosok yang terlihat dari jendela, kerap kali tanpa sengaja meninggalkan jejak dalam benak.
aku dan lamunan panjang tentang apa-apa yang harus kulakukan untuk mendapatkan apa-apa yang belum tentu kubutuhkan namun entah kenapa selalu kuinginkan,
dan mereka yang tak sempat berangan panjang sebab sibuk memanjangkan nafas kehidupan.
sebab ini adalah perjalanan, maka aku perlu bekal
sebuah perjalanan yang aku tak tahu, pendek atau panjang
sebab ini adalah perjalanan, dengan rinai badai juga terik bergantian
sebuah perjalanan yang kebaikan di dalamnya aku semogakan
hai gadis kecil,
bagaimana kabarmu hari ini?
kudengar engkau mulai bertanya tanya, apakah bunga matahari adalah satu satunya sumber bahagia?
hai gadis mungil,
sudahkah kau temukan apa warna pelangi?
kudengar engkau mulai gagap mengenali hingga merah muda dan jingga nampak serupa
kemarilah gadis mungil,
akan kudengarkan senandung sumbangmu
akan kudengarkan cerita hantu karanganmu
akan kubiarkan engkau menari tanpa lagu
akan kubiarkan engkau mewarnai seluruhnya kelabu
dengar, gadis kecil
kamu tak perlu terus meringkuk sendirian
ingatlah, aku adalah nyaman
kamu benar,
mungkin setiap orang tua merasakan sesal dan galau yang sama.
bagaimanapun, mendidik anak adalah sebuah perjalanan
ada hari-hari ketika kita lelah, lengah bahkan hampir menyerah
namun ada satu hal yang aku tahu benar
bagaimanapun rute perjalanan ini,
bersamamu,
lelah menguap dengan mudah.
Hal-hal yang selama ini membantuku mencerna rasa tidak nyaman
1. Ngomong sendiri dalam hati
2. Mengadu pada Penguasa Segalanya. Mendadak doaku lebih lama dari biasanya
3. Menuliskan, mendeskripsikan detail yang aku rasakan
4. Beres beres, merapikan sesuatu. Seperti sedang mengurai dan memilah isi kepala
5. Menangis. Memang bukan pilihan pertama, biasanya merupakan pertahanan terakhir
6. Tidur
7. Kopi, atau es krim
8. Membaca novel, membaca ulang buku catatanku sendiri
9. Membicarakan, mengutarakan