Jemari kaku-kaku.
Sejak dulu saya memang tak pernah terbiasa menuang rasa melalui ketikan jari.
Sebagai generasi jadul, goresan pena lebih memuaskan hati.
Diksi tersendat-mampat.
Dalih abadi sih karena kurang input, ya kurang baca, kurang memperhatikan, kurang mendengarkan, kurang cekatan mengabadikan kenangan.
Padahal bertebar cerita, peristiwa, juga endapan rasa.
Tergelitik bisik.
Iya, meski hilang timbul tak tentu.
Walau hanya sekadar menuruti rasa tak hambar.
Dan tentu sejauh ini tak juga kian mendekati fase 'bermanfaat bagi umat', biarlah.
Biar jemari tetap menari.
Biar rasa tetap terkata.
Biar kalimat mengikat cerita.
3.26.2015
rindu, selalu
12.16.2014
tak ada gemintang yang kehilangan kesejatian.
Kukisahkan pada senja tentang sebentuk putih sederhana yang mendewasa.
Tentang bahagia yang tak melulu tawa atau celoteh tak berguna dua jam tanpa jeda.
sesekali duka bertandang, menyaru seribu nama. sekelebat singgah sekadar pengingat.
Kukisahkan padamu tentang sebentuk putih sederhana.
Meski hening.
Bergeming.
: Percayalah, tak ada gemintang yang kehilangan kesejatian.
12.15.2014
Tajam Hujanmu
TAJAM HUJANMU
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
Oleh :
Sapardi Djoko Damono
tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu
sembilu hujanmu
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
Kumpulan Sajak,
1982.
