9.06.2018

Semangat Belajar Berkomunikasi

Menjalani peran domestik sekaligus mengambil peran di ranah publik memiliki beberapa implikasi. Salah satunya, harus tetap berusaha menjaga emosi,intonasi dan menunjukkan empati ketika membersamai anak-anak sepulang bekerja.

Tidak selalu mudah tentu saja, namun harus selalu diupayakan seoptimal mungkin. Pekerjaan  tidak melulu lancar, jam pulang kadang melebihi jadwal, rekan kerja dan atasan juga tidak selalu menyenangkan. Tetapi apapun yang terjadi di luar rumah,tidak boleh mengurangi kualitas komunikasi dengan anak-anak maupun pasangan di rumah.

Meskipun lelah, anak-anak tetap harus disapa dengan ramah. Meskipun terjadi hal tidak menyenangkan di kantor, anak-anak tidak boleh menerima amarah tersembunyi dari ketusnya kata-kata atau intonasi yang meninggi. Meskipun sangat menginginkan segera melepas penat dan beristirahat, namun itu tidak bisa menjadi alasan pembenaran untuk tergesa dan menolak mendengarkan perasaan dan cerita mereka.

Sampai saat ini,saya masih terus dan senantiasa belajar. Salah satu ikhtiar saya adalah dengan mengikuti kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional. Saya berharap dengan tambahan ilmu dan semangat dari teman-teman, saya dapat meningkatkan kapasitas diri sebagai seorang ibu terutama dalam aspek komunikasi.

Semangat belajar, Bunda!

#day1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

1.09.2018

dalam doa

Ada waktu waktu ketika aku merindukanmu
Lalu aku penuhi setiap lembar yg kumiliki, dengan larik larik puisi
Rinduku, semakin kentara karenanya

Ada saat dimana aku merindukanmu
Kemudian kutenggelamkan diri diantara deretan kata
Rindu itu, menyamudera

Pada akhirnya setiap kali detik itu tiba
Ketika sesuatu bernama rindu mendatangiku,
Dalam kata, suara, suasana, kenangan, ingatan, bayangan
aku menyerah
lalu telapak tanganku tengadah

Kuucap namamu dalam rapal doa
Semoga kamu senantiasa dalam penjagaan,   dan jalan kebaikan.

11.16.2017

cukup

aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
-Sapardi Djoko Damono-
Dalam Doaku,1989



Aku mencintaimu,karena aku pernah menari hanya karena selarik sapa
atau tersipu dengan selusin kupu-kupu di perutku,
waktu itu.

Aku mencintaimu, karena Dia memerintahkan itu
meski perutku tak lagi berisi, kakiku kaku.

Aku mencintaimu, dan harusnya itu menjadi sebab aku takkan pernah selesai mendokan keselamatanmu.
Saat ini,
Waktu itu,
esok lusa,
sepanjang usia.

bukan tentang siapa mencintai siapa yang bagaimana,
tetapi cinta sebenar-benarnya,
Dia.