11.13.2012

tak ingin menari

engkau menggenapi senduku kali ini
menghalangi tergesanya langkah menghambur berlari

aku hendak menjemput matahari,
dan kalimatku meninggi

engkau menyengatkan piluku sore ini
menjegal asa menikmati senja bersama dua binar cinta

aku telah merindu,
tidakkah engkau tahu?

engkau menemaniku
dengan rintik yang bersenandung
lagu ritmis serupa kidung

hanya saja
aku sedang tak ingin menari


sore ini


sungguh ketika mendengarmu sakit disana, ada yang sakit disini
jauh lebih sakit dari ketika sakit itu benar2 ada disini

ada perasaan bersalah yang sangat
ada rasa tidak berdaya yang menjelma
ada sedih yang tak terungkap
ada khawatir berlipat

sungguh, suamiku..
seandainya bisa
aku ingin mengambil sakit itu darimu

Ya Allah..
berikanlah kesembuhan kepada suami hamba
karuniakanlah nikmat kesehatan kepada belahan jiwa hamba

mas..
maafkan ayu..
 
-air mata ini, untuk tangan yang tak kuasa apa apa-

mengingat saat saya menuliskan itu semua.
ketika doa menjadi satu satunya yang saya punya.


sore ini, di balik kubikel tempat saya memaksa diri tetap berkonsentrasi, sementara segala ingatan terbagi dua bagian.
suami yang demam, dan belum bertemu fayyadh seharian.



11.12.2012

semoga pelangi


semilir menyapa rindu
menyapu angkuh yang sejatinya tak kuasa bahkan untuk sekadar menopang limbung di ujung runtuh
rerintik menyentil rindu
tepat di tempat terpencil yang sejatinya tak pernah berhenti memanggil dalam kerap yang kian merapat

rinai menjejakkan basah dalam pencarian rindu
semburat setia menyisir dimana rindu hadir

semoga pelangi
menjadi rindu yang mekar hari ini