4.23.2013

Sepotong siang


Terik. Peluh berbintik. Ah,aku tak peduli. Bukankah dari dulu begini. Orang kaya berkendara jauh karena memilih restoran yang paling nyaman suasananya dan paling enak makanannya. Orang miskin,berjalan jauh menuju warung yang paling murah dengan porsi terbanyak tentunya.
Untuk lapar kali ini aku menyerah. Kepalaku berat, perut melilit, badan pun lemas setengah mati. Dengan sangat terpaksa kuseret langkah ke warung.

“Mau kemana? Mampir sini, kok cuma lewat aja”

Suara Dinda. Ternyata aku melewati depan kosnya. Aku tak begitu mengenalnya,hanya sebatas nama. Cacing di perutku pun telah tak sabar menunggu. Mudah saja untuk sedikit tersenyum,dan berlalu. Tapi,entah kenapa aku justru menghentikan langkah, menuju asal suara.
Dengan binar wajah dinda menyambutku. Kami berbincang ringan. Tak lama,dia pamit keluar sebentar. Aku menunggu sambil memelototi gambar seorang artis dan koleksi bajunya di televisi.

“Tuhan terlalu berbaik hati padanya,tapi tidak padaku.” Lancang aku menyimpulkan. Mungkin karena lapar.
Dinda kembali tak lama kemudian. Menenteng tas kresek hitam, masih dengan wajah bersinar.

“Aku seneng banget kamu mau mampir. Dan seorang tamu,wajib dijamu ” ucap Dinda riang tanpa beban. 

Disodorkannya sepiring nasi bungkus komplit dengan paha ayam,perkedel dan tempe goreng. Menu yang mungkin hanya kucicipi seminggu sekali. Itupun tidak dengan tiga lauk sekaligus.

“Yuk,makan sama-sama” kata Dinda.

Siang itu, Tuhan mencubitku. Aku lancang mempertanyakan kemurahanNya, kemudian Dia menjawab dengan segera,dalam cara sederhana. Rupiah terakhirku tetap menghuni saku. Dan aku tak hanya mendapat makanan, tetapi juga persahabatan.

“Tuhan Maha Pemurah”, ralatku dalam hati.


source

5 comments:

  1. subhanallaah..
    benar benar silaturrahmi membawa rejeki ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba titi..

      matur nuwun sudah berkunjung
      ^^

      Delete
  2. Subhanallah.. cerita yang sangat menyentuh,

    Sederhana tapi membekas di hati..

    Memang terkadang kita sering mempertanyakan kemurahan nikmat dari Allah.

    Padahal setiap hari pun, sehat ini, nafas ini adalah kemurahan yang Allh berikan dengan cuma2 kepada hambaNya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. padahal, tanpa kemurahanNya,apalah kita ini
      ya kan dek?
      ^^

      Delete
  3. tin...tin... (klakson si"MIO")
    numpang lewat di blog mas ku & mbak ku... hehehe

    ReplyDelete

Menyenangkan membaca komentar dari teman-teman. :D