rindulah yang menjemput gerimis dan kemudian langit terlukis
rindu pula pengasuh setia yang menyuapkan asa
rindu menjadi rima
sebagai nada
penghantar cerita kita
ketika rindu berlagu,
semoga tergubah merdu
selalu
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
ketika rindu
Sepertiga pertama
Bagi saya, sepertiga pertama tidak berhasil menjadi awalan yang cukup menggetarkan (untuk tidak mengatakan gagal mendongkrak semangat berlomba meraup pahala)
Ramadhan kali ini saya tidak memulai puasa pada hari jumat atau sabtu, melainkan kamis. Bukan karena saya tidak menyepakati sidang isbat, tetapi karena keistimewaan sebagai perempuan, saya baru memulai puasa ketika orang lain telah mengantongi 5/6 hari puasa.
Tahun ini untuk pertama kalinya saya tidak dapat turut merasakan gempita dan antusiasme awal ramadhan. Ketika teman teman lain berpuasa dan saya belum, rasanya ramadhan masih belum saya rasakan syahdunya.
Dan bagian terburuknya adalah, hal tersebut membuat saya terlena dan berleha leha bahkan ketika saatnya saya telah dibolehkan kembali menjalankan ibadah ibadah utama.
Idealnya, karena saya telah mengetahui bahwa saya terlambat start, maka yang saya lakukan adalah berlari mengejar ketertinggalan.
Seharusnya, karena jelas bahwa saya tidak bisa berpuasa, atau shalat, atau tilawah, maka saya harus balas dendam dengan memperbanyak sedekah, bersungguh sungguh bekerja dengan niat ibadah dan sebagainya.
Nyatanya,
Evaluasi sepuluh hari pertama ramadhan bagi saya bernilai merah.
Target ramadhan yang telah saya buat sebelumnya membuahkan check list yang tidak penuh.
Bolong disana sini.
Tidak tercapai target amalan.
Dan tiba tiba saja telah sepuluh hari berlalu dengan tanpa saya manfaatkan benar benar.
Terkalahkan di sepertiga pertama
Dan saya,suka atau tidak suka, harus mengakuinya.
Semoga Allah masih berkenan memberikan kesempatan.
Tidak ada pilihan kecuali berupaya maksimal untuk berlari mengejar ketertinggalan,
hingga penghabisan bulan mulia ini.
Alloh humma arinal haqqo-haqqo warzuknat tiba’a….wa arinal batila-batila warzuknat tinaba”
Ya Allah tunjukanlah yg benar itu benar dan berikanlah kekuatan untuk mengikutinya dan tunjukanlah yg batil itu batil dan berikanlah kekuatan untuk menjauhinya,,
duhai jiwa, atas kesempatan yang tersia, mampukah sekadar sesal menambal?
sebelah sayap
Kemarin, saya sempat dilanda galau luar biasa ketika mbak ari, pengasuhnya fayyadh minta dipulangkan.
Mbak ari berasal dari jogja, kampung halaman saya, dan diantar ke bengkulu oleh ibu dan adik saya untuk menemani fayyadh selama saya bekerja.
Jauh sebelum ramadhan, kami sudah membicarakan tentang rencana mudik, dimana pada saat itu dengan gamblang saya mengutarakan bahwa kami tidak berencana lebaran di jogja tahun ini.
Mbak ari pada saat itu tidak berkeberatan.
Namun memang tidak hanya lisan yang berbicara.
Tiga hari awal ramadhan mbak ari mengeluh pusing dan lemas, namun menolak diantar ke dokter.
Dan saya yang kemudian kebingungan.
Makin hari kondisi tubuhnya tidak membaik. Ditambah lagi pada saat itu fayyadh pun sedang disibukkan oleh batuk berdahak yang belum juga sembuh.
Tiga hari saya disibukkan dengan fayyadh yang agak rewel dan mbak ari yang kurang kooperatif terhadap upaya upaya memulihkan kesehatannya.
Hingga akhirnya saya menyimpulkan bahwa mbak ari homesick.
Kegalauan mulai mewarnai awal ramadhan saya.
Membelokkan rencana lebaran yang semula di bengkulu sebagaimana tahun lalu dan mengubah setting menjadi jogjakarta tercinta sempat terpikirkan.
Namun saya menolak untuk semakin jauh memikirkan kemungkinan tersebut.
Saya masih ingat benar, bahwa sayalah yang mengatakan bahwa tidak ada kosakata mudik ke jogja tahun ini, mengingat kami sedang menyiapkan dana pindahan ke rantau prapat, terkait permohonan ikut suami yang telah lama saya ajukan.
Bagaimana jika sewaktu waktu permohonan saya dikabulkan, SK diterbitkan, dan saya justru kebingungan dengan dana pindah yang diperlukan.
Namun di sisi lain, melihat mbak ari yang lemas, dan gelengan kepalanya tiap kali saya meminta dia ke dokter, membuat hati saya mencelos.
Sempat berpikir untuk mengantar mbak ari pulang sesegera mungkin, mumpung tiket pesawat belum terlalu mahal.
Mengambil cuti sebentar, dan segera kembali ke bengkulu.
Saya pikir itulah jalan tengah.
Dengan kegalauan yang masih tersisa, saya membicarakan hal ini dengan suami.
Dan beliau, sebagaimana biasanya, mampu menangkap ingin, yang bahkan coba saya ingkari
Mengatakan dengan ringan, bahwa beliau akan berburu tiket untuk kami pulang kampung lebaran ini.
"Kita akan lebaran di Jogja, bunda"
Saya, sebagaimana biasa, hanya sanggup tersenyum tanpa kata.
"Insya Allah akan ada rizkinya, bunda doakan ayah ya"
Dan sekali lagi, saya membisu, menyusut air mata haru.
Beliau, selalu begitu.
Mengetahui pinta yang tak terkata, lalu dalam diam menyiapkan.
Dan saya, selalu sama.
Merasa memiliki sebelah sayap untuk memetik segala mimpi.
Saya tahu benar, angka angka nanti yang akan berbicara.
Namun saya tahu bahwa suami saya pun benar, ada Yang Maha Kaya sebagai tumpuan segala doa.
