sholehah itu proses, sayang..
itu ikhtiar dan doa
demikian kata seorang saudari saya tercinta.
Adem terdengar di telinga.
Apalagi bagi saya, yang demikian lama berkutat pada asumsi bahwa 'sholihah itu hanya akan menjadi milik anda, kalian, atau mereka, namun yang pasti bukan saya'
sholehah itu proses, sayang..
Maka selalu ada kesempatan bagi yang pernah salah, terlalu lelah, merasa payah bahkan hampir menyerah untuk mengupayakan sholehah, dengan terus menerus berbenah.
Sebab Allah Maha Pengampun, bahkan ketika hambanya datang dengan dosa sebanyak buih di lautan.
itu ikhtiar dan doa
Maka hidayah tidak begitu saja turun dari langit.
Maka iman itu perlu dipupuk dan dipelihara.
Maka menyibukkan diri dengan kebaikan itu adalah keutamaan.
Dan sebagai gongnya, pinta akan kemurahan kasih sayangNya adalah mutlak.
sholehah itu proses, sayang..
itu ikhtiar dan doa
Ya Rabbi
perkenankan ramadhan ini menjadi saat hamba memperbaiki diri, mengoptimalkan ikhtiar dan doa
dan perkenankan keberkahan bulan mulia ini mematri, hingga istiqomah menjadi hal yang lebih mudah dan terasa indah.
sholehah itu..
masih anak singkong
Rasanya sudah lama cita cita bersekolah tinggi tinggi sekadar menjadi ingin yang tak pernah diakui.
Menjadi benih yang sengaja dibusukkan hingga tak mungkin menyapa matahari.
Namun ada satu dua waktu dimana dia merasa ilmu adalah satu satunya harapan.
Satu syarat yang kata banyak orang menjanjikan gemilang hari depan.
Dan dia percaya.
Maka benih busuk itu dibujuknya untuk tidak takluk.
Berupaya senti demi senti untuk menjauhi garis pemisah hidup dan mati.
Sekali lagi, ilmu menjadi kekasih semu.
sekadar sandang untuk tujuan yang lebih besar, meski tidak lebih mulia.
dia perlu ilmu untuk mengecat masa depan yang telanjur diramal kelabu.
tidak hanya baginya, lebih lebih bagi dua adik yang saat itu masih belum sepenuhnya mengerti.
Karena kasih sayang Sang Pemilik Ilmu,meski terkhianati, ilmu memperlakukannya selayak kekasih sejati.
Meski berliku, tapak anak tangga dia tapaki satu demi satu.
Semburat semburat mulai berhimpun dan membiaskan rupa warna.
Sudahkah paripurna syukurmu, hei anak singkong?
anak singkong
"hei, anak singkong, lihat sepupumu yang sangat pintar itu. Jalan jalan ke Jakarta bertemu Pak Presiden. Pulang dengan uang saku penuh dan koper sesak berisi cinderamata.
Bagimu, cukuplah sebuah stiker gagah berbentuk lingkaran berwarna merah putih bertuliskan Gelantara, Gelar Nusantara Anak Indonesia."
Hari hari sesudahnya adalah membaca.
Mencuri setiap keping prestasi yang masih bisa diraih lengan mungilnya.
Memungut tiap remah ilmu,
diam diam menyemai asa tiba waktunya dia tak kan dipandang dengan hanya sebelah mata.
Ilmu hanyalah kekasih sementara masa.
Tak benar benar ia pedulikan, tak benar benar ia rindukan.
Cinta sejatinya tidak disana.
Yang dia inginkan adalah Pengakuan.
Bahwa anak singkong pun bisa melakukan hal yang besar.
Bahwa anak singkong pun bisa memperoleh kehormatan.
Pengakuan,
bahwa dia bisa,lebih pintar dari sepupunya.
Pembuktian, menjadi bara yang terus menyalakan langkah.
Memaksa menyeret tapak kaki untuk terus mendulang tak berhenti.
Letih.
Dan ketika pada akhirnya pengakuan dunia itu tiba,
ia dan hatinya telah mati rasa.
